Info Sintang — Pemerintah Kabupaten Sintang terus memperkuat komitmen dalam bidang ketahanan pangan dengan mendorong setiap desa di wilayahnya untuk memiliki dan mengelola lahan ketahanan pangan secara mandiri. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkab Sintang dalam menghadapi potensi krisis pangan global dan menjaga ketersediaan bahan pokok masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sintang, Ir. Yuliana, M.P., mengatakan bahwa program tersebut akan diterapkan secara bertahap mulai tahun 2026, dengan melibatkan seluruh desa dan perangkat kecamatan.
“Kami ingin setiap desa memiliki lahan cadangan pangan minimal satu hektare yang bisa dikelola bersama oleh masyarakat, kelompok tani, atau BUMDes. Tujuannya agar daerah kita tidak tergantung pada pasokan dari luar,” ujarnya di Sintang, Rabu (29/10/2025).
Antisipasi Krisis dan Kenaikan Harga Pangan
Menurut Yuliana, tantangan ketahanan pangan ke depan semakin kompleks akibat perubahan iklim, keterbatasan lahan produktif, serta ketergantungan terhadap bahan pangan impor. Oleh karena itu, pemerintah daerah berupaya menciptakan sistem pangan berbasis lokal yang tangguh dan berkelanjutan.
“Beberapa desa sudah mulai menanam padi, jagung, dan sayuran di lahan desa. Kami akan terus dorong agar inisiatif seperti ini menjadi gerakan bersama. Ketika semua desa punya cadangan pangan, kita bisa mengantisipasi gejolak harga dan krisis bahan pokok,” jelasnya.
Selain untuk menjaga ketersediaan pangan, program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui hasil pertanian yang dapat dijual atau dikelola menjadi produk olahan.
Kolaborasi dengan BUMDes dan Kelompok Tani
Pemkab Sintang juga mendorong Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan kelompok tani menjadi motor penggerak dalam pengelolaan lahan ketahanan pangan. Pemerintah akan memberikan pendampingan teknis, bantuan benih, pupuk, serta alat pertanian.
“BUMDes bisa menjadi lembaga pengelola hasil panen agar tidak hanya berorientasi konsumsi, tapi juga ekonomi. Kita ingin hasil pangan desa bisa masuk ke pasar lokal maupun antar-daerah,” terang Yuliana.
Ia menambahkan bahwa DKPP Sintang telah menyiapkan program Sekolah Lapang Pertanian Terpadu, yang melibatkan penyuluh pertanian dan petani muda di tiap kecamatan. Melalui kegiatan ini, masyarakat akan mendapatkan pelatihan cara pengolahan lahan, penanaman organik, serta manajemen hasil panen.

Baca juga: Pramuka Garuda Sintang Resmi Dilantik
Sinergi Pemerintah Daerah dan Pusat
Bupati Sintang, Jarot Winarno, dalam kesempatan terpisah menyatakan dukungannya terhadap langkah DKPP. Ia menilai bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas sosial dan ekonomi daerah.
“Desa adalah ujung tombak pembangunan. Kalau setiap desa mandiri dalam pangan, maka kita tidak akan mudah terguncang oleh kondisi nasional maupun global. Program ini akan kami dukung sepenuhnya,” ujar Jarot.
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemkab Sintang telah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk mendapatkan dukungan program nasional, termasuk bantuan sarana produksi dan bibit unggul.
Dukungan dan Harapan Masyarakat
Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat desa. Salah satu kepala desa di Kecamatan Tempunak, Markus, menyebut inisiatif tersebut sangat relevan dengan kebutuhan warga.
“Selama ini kami masih membeli sebagian besar bahan pokok dari luar daerah. Kalau kami bisa kelola lahan pangan sendiri, tentu akan mengurangi pengeluaran dan bisa jadi tambahan penghasilan,” katanya.
Para petani juga menyambut baik rencana pendampingan pemerintah. “Yang kami butuhkan bukan hanya bantuan benih, tapi juga cara mengelola hasil panen agar punya nilai jual. Kalau itu terwujud, petani bisa lebih sejahtera,” ujar Suharno, petani di Desa Tanjung Sari.
Menuju Sintang Mandiri Pangan
Melalui program ini, Pemkab Sintang berharap dalam dua hingga tiga tahun ke depan, seluruh desa sudah memiliki lahan ketahanan pangan aktif yang berfungsi ganda — sebagai penyangga kebutuhan masyarakat dan sumber ekonomi desa.
“Kami ingin mewujudkan Sintang sebagai daerah yang mandiri dan tangguh pangan. Program ini akan terus dipantau agar benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat desa,” tegas Yuliana.
Dengan dukungan lintas sektor dan partisipasi masyarakat, Sintang optimis mampu menjadi contoh keberhasilan ketahanan pangan berbasis desa di Kalimantan Barat, sekaligus menjawab tantangan pangan masa depan dengan kemandirian dan inovasi.
















