Wagub Krisantus Buka Gawai Dayak XII di Sintang Jaga Warisan Leluhur, Hadapi Tantangan Zaman
Sintang – Pekan Gawai Dayak (PGD) XII resmi dibuka oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat, Krisantus Kurniawan , di Rumah Betang Tampun Juah, Kabupaten Sintang, Rabu (16/7). Acara yang menampilkan ribuan masyarakat Dayak dan pejabat dari berbagai kabupaten ini menjadi momen penting untuk melestarikan budaya sekaligus merefleksikan tantangan pembangunan di Kalbar.
Ditemani Bupati Sintang, Gregorius Herculanus Bala, Wagub Krisantus menyampaikan kebanggaannya atas penyelenggaraan PGD yang sarat makna. “Gawai bukan sekedar pesta. Ini adalah warisan leluhur yang harus kita jaga di tengah gempuran globalisasi,” tegasnya.
Gawai: Syukur, Budaya, dan Persatuan
Gawai Dayak merupakan tradisi turun-temurun sebagai bentuk syukur atas hasil panen dan kerja setahun. Namun, dibalik kemeriahannya, tersimpan pesan penting tentang pelestarian budaya di tengah perubahan zaman.
Krisantus mengingatkan agar masyarakat tidak hanya terlena dengan hiburan, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur adat Dayak. “Kita harus bangga dengan identitas kita. Jangan sampai anak cucu hanya mengenal Gawai lewat cerita, tapi tidak lagi menanamkannya,” ujarnya.

Baca Juga: Pekan Gawai Dayak XII Sintang Dibuka, Bentuk Syukur Atas Hasil dan Pencapaian Masyarakat
Selain berbicara tentang budaya, Wagub juga menyoroti persoalan pembangunan di Kalbar, seperti kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, dan kesenjangan akses di daerah terpencil. Ia mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana dan merusak tanpa lingkungan.
Bupati Gregorius menambahkan, masyarakat Dayak masih menghadapi tantangan ekonomi, termasuk ketergantungan pada tambang emas rakyat. “Banyak yang mengeluarkan emas, lalu usaha lain yang dikembangkan. Kita harus mulai berpikir lebih produktif,” ungkapnya.
Ia juga menekankan mentalitas bantuan yang belum berorientasi pada jangka panjang. “Jangan hanya membuat kelompok tani saat ada bantuan, lalu bubar setelahnya. Kita harus bangun kemandirian,” tegasnya.
Gawai Sebagai Penggerak Ekonomi
PGD XII tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga mendorong perekonomian lokal. Nini Tresya, pelaku UMKM yang berjualan di acara ini, mengaku antusias dengan ramainya pengunjung meski infrastruktur seperti jalan masih perlu diperbaiki.
“Pengunjung membludak, tapi akses di beberapa titik masih becek. Semoga tahun depan lebih baik,” harapnya.
Semangat Gotong Royong untuk Masa Depan
Selama sepekan, PGD XII menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari prosesi adat, tarian tradisional, pameran UMKM, hingga diskusi budaya. Melalui semangat gotong royong, acara ini tidak hanya memperkuat identitas Dayak, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk menghadapi tantangan sosial-ekonomi ke depan.
“Gawai harus ramai, tapi juga aman. Kalau tidak ramai, bukan Gawai namanya. Tapi kalau tidak aman, tidak layak dirayakan,” pesan Bupati Gregorius menutup acara pembukaan.
Dengan semangat ini, Gawai Dayak XII diharapkan tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga tidak melestarikan budaya dan pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Barat.
















