Sintang – Rangkaian kegiatan Gawai Adat Dayak Kabupaten Sintang ke-XII Tahun 2025 akhirnya resmi ditutup dengan meriah pada Sabtu malam (16/8/2025). Penutupan berlangsung penuh kehangatan dan semangat kebersamaan, ditandai dengan prosesi adat, penampilan seni budaya, serta doa bersama yang dipimpin para tokoh adat Dayak.
Perayaan Meriah, Penuh Makna
Sejak dibuka beberapa hari lalu, Gawai Adat Dayak ke-XII di Kabupaten Sintang menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari ritual adat, lomba tradisional, pameran kerajinan tangan, hingga pentas seni budaya. Masyarakat dari berbagai kecamatan di Sintang turut hadir, termasuk perantau Dayak yang pulang kampung untuk merayakan gawai.
“Gawai adat ini bukan sekadar pesta, tetapi wujud rasa syukur kepada Tuhan dan leluhur atas hasil panen serta berkah kehidupan yang kita terima,” ujar Ketua Panitia Gawai Adat Dayak Sintang.
Ajang Pelestarian Budaya
Penutupan gawai juga dimeriahkan dengan tarian tradisional massal, tabuhan gong, dan iringan musik sape’ khas Dayak. Nuansa adat begitu terasa ketika para penari mengenakan busana tradisional berhiaskan manik-manik, bulu enggang, dan warna-warna khas etnik Dayak.

Baca juga: Cegah Penyelundupan, Petugas Lakukan Patroli Gabungan Wilayah Perbatasan
Bupati Sintang dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga tradisi dan budaya Dayak agar tetap hidup di tengah arus modernisasi.
“Gawai adat adalah identitas kita. Pemerintah daerah berkomitmen mendukung pelestarian budaya Dayak agar bisa terus diwariskan kepada generasi muda,” tegasnya.
Pusat Ekonomi Kreatif Lokal
Selain menjadi perayaan budaya, Gawai Adat Dayak juga membawa dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Selama acara berlangsung, para pelaku UMKM dan pengrajin lokal diberi ruang untuk menjual produk-produk khas, mulai dari kuliner tradisional, tenun ikat Dayak, hingga anyaman rotan.
“Penjualan kami meningkat pesat selama gawai ini. Banyak pengunjung dari luar Sintang yang membeli hasil kerajinan tangan,” kata Yuli, salah seorang pengrajin tenun.
Harapan untuk Gawai Berikutnya
Acara penutupan ditutup dengan prosesi adat “ngiling bidai”, yang melambangkan berakhirnya rangkaian gawai. Ribuan masyarakat yang hadir larut dalam suasana haru sekaligus bahagia.
Tokoh adat menyampaikan harapan agar Gawai Adat Dayak Kabupaten Sintang ke-XIII mendatang dapat digelar lebih besar, dengan partisipasi lebih luas dari generasi muda.
“Budaya hanya akan bertahan jika anak-anak muda mau belajar, mau ikut serta, dan bangga dengan identitasnya sebagai Dayak,” ungkapnya.
Dengan resmi ditutupnya Gawai Adat Dayak ke-XII Tahun 2025, masyarakat Sintang membawa pulang semangat kebersamaan, rasa syukur, serta tekad untuk terus menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman.
















