Info Sintang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi. Kegiatan ini diikuti oleh berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI/Polri, akademisi, pelajar, hingga masyarakat umum.
Edukasi Mitigasi Sejak Dini
Kepala BMKG menyampaikan, SLG digelar untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai potensi gempabumi serta langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan masyarakat. Dengan edukasi sejak dini, diharapkan masyarakat lebih siap menghadapi risiko bencana dan dapat meminimalkan jatuhnya korban jiwa maupun kerugian material.
“Sekolah Lapang Gempabumi ini bukan hanya sekadar teori, tetapi juga praktik langsung agar masyarakat bisa benar-benar memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi guncangan,” ujarnya.
Peserta Dilibatkan dalam Simulasi
Dalam kegiatan ini, peserta diberikan materi mengenai dasar-dasar gempabumi, sistem peringatan dini, hingga strategi evakuasi. Mereka juga terlibat dalam simulasi tanggap darurat, seperti bagaimana berlindung saat guncangan, jalur evakuasi yang aman, hingga penanganan pascabencana.
Simulasi dilakukan seolah-olah terjadi gempa di pusat keramaian, sehingga peserta dapat menguji kemampuan dan kesiapan masing-masing.

Baca juga: Pemkab Sintang Dukung Program Ketahanan Pangan
Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Sintang menyambut baik kegiatan ini. Menurut Bupati Sintang, kegiatan SLG sejalan dengan program pemerintah daerah dalam memperkuat kapasitas masyarakat menghadapi bencana.
“Kami berterima kasih kepada BMKG yang sudah memilih Sintang sebagai lokasi kegiatan. Ini penting karena bencana tidak bisa diprediksi, tapi kita bisa mengantisipasi dampaknya,” ucapnya.
Sintang Masuk Kawasan Rawan Guncangan
BMKG mencatat bahwa wilayah Kalimantan Barat, termasuk Sintang, meskipun relatif jarang terjadi gempa dibanding daerah lain seperti Sulawesi atau Sumatra, tetap memiliki potensi guncangan akibat aktivitas tektonik. Karena itu, kegiatan edukasi ini dianggap relevan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.
“Jangan karena jarang gempa, kita abai. Justru kewaspadaan harus tetap dijaga, karena gempabumi bisa terjadi kapan saja,” tegas perwakilan BMKG.
Harapan Jangka Panjang
Melalui Sekolah Lapang Gempabumi, BMKG berharap peserta yang mengikuti kegiatan dapat menjadi agen informasi di lingkungannya masing-masing. Mereka bisa menularkan pengetahuan kepada keluarga, tetangga, maupun komunitas.
“Dengan banyak orang yang paham, rantai penyebaran informasi akan lebih cepat, dan masyarakat bisa lebih sigap menghadapi bencana,” kata panitia SLG.
Antusiasme Peserta
Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari peserta. Beberapa pelajar yang mengikuti pelatihan mengaku mendapat pengalaman berharga yang tidak diajarkan di sekolah.
“Awalnya saya takut kalau bicara soal gempa, tapi setelah ikut pelatihan ini, saya jadi tahu apa yang harus dilakukan supaya tetap aman,” ungkap Rika, salah satu peserta pelajar.
















